oleh

Sudah Dua Kali Fadli Zon Melecehkan Ulama NU

-News-364 views

Indosatu.Net – Saya pernah nyantri selama 6 tahun, dan mengajar 1 tahun. Saya paham betul bagaimana etika dan sopan santun kepada Kiai. Jangankan untuk menghina dan mencaci Kiai, mau menegur dan mengkritik saja, susahnya setengah mati.

Ada sebuah pengalaman unik, ketika pilihan politik saya berbeda dengan Kiai di pesantren tempat saya belajar dulu. Sempat saya jadi sasaran tembak dan dianggap contoh buruk. Nama saya pun dibawa ke mana-mana, sebagai santri dan alumni yang buruk, bahkan beberapa orang menyebut santri murtad.

Beberapa orang pernah menghubungi saya gara-gara ini, bahkan ada juga yang datang ke rumah menemui orang tua untuk menyampaikan teguran.

Sempat juga berpikir untuk datang menghadap dan menjelaskan. Sempat juga ingin menuliskan komentar di sosial media yang menyindir atau secara terang-terangan menghina saya. Namun semua itu saya batalkan karena tahu bahwa ujung dari perselisihan ini hanya akan menyeret nama almamater ke bahasan yang kurang produktif. Selain itu, saya meyakini, bahwa Kiai tetap harus dijaga nama baiknya. Ini bukan soal menang kalah, atau benar salah. Ini tentang etika santri dan penghormatan terhadap pesantren. Itu saja.

Etika dan penghormatan semacam ini memang hanya ada dalam diri santri. Buat yang belum pernah masuk pesantren, atau sekedar pesantren kilat 20 hari, tentu tak akan terlalu paham lingkungan dan budaya santri. Apalagi buat mereka yang memang tak pernah nyantri, dan ngajinya sama ustad-ustad google.

Nampaknya ini yang sedang terjadi pada Fadli Zon. Jangankan memahami sopan santun pada Kiai, pada orang biasa saja dia tidak tahu.

Juni 2018 lalu, salah seorang kader Gerindra mengundurkan diri karena Fadli Zon menghina Sekjen PBNU, Yahya Staquf. Tweet yang dipermasalahkan oleh Nuruzzaman adalah ini: Cuma ngomong begitu doang ke Israel. Ini memalukan bangsa Indonesia. Tak ada sensitivitas pada perjuangan Palestina. Cuma #2019GantiPresiden

Nuruzzaman membacakan surat pengunduran dirinya, serta alasan mundur dari Gerindra. Berikut salah satu alasannya: Kemarahan saya memuncak karena hinaan saudara Fadli Zon kepada kiai saya, KH Yahya Cholil Staquf terkait acara di Israel yang diramaikan dan dibelokkan menjadi hal politis terkait isu ganti Presiden.

Kita ingat betul waktu itu tak ada ucapan maaf dari Fadli Zon. Elite Gerindra malah menuduh Nuruzzaman kader nonaktif. Sangat-sangat defensif dan tak merasa ada yang salah.

Lalu kini, Fadli Zon membuat puisi yang menyerang acara doa Kiai Maimun Zubair. Dalam puisinya, Fadli menyerang Kiai yang salah mengucapkan nama Jokowi menjadi Prabowo. “Doa yang ditukar, doa sakral, seenaknya kau begal, disulam tambal, tak punya moral, agama diobral.”

Orang model Fadli Zon ini selain bukan santri, juga bukan manusia yang paham etika dan sopan santun. Ngeyelan dan bebal. Dia bisa berkilah bahwa dalam puisinya tidak menyinggung Kiai Maimun, tapi ketika warga NU kompak protes keras, dari Menteri Agama hingga anak Gusdur, ini menandakan bahwa yang tersinggung bukan hanya satu dua orang. Dan kalau mau ditafsirkan, dengan teori apapun, puisi Fadli Zon memang sangat menghina Kiai Maimun.

Sudah dua kali Fadli Zon melecehkan tokoh dan ulama NU. Dua kali pula manusia ini merasa tak bersalah dan ngeles. Kalau soal menghina tokoh-tokoh Indonesia yang lain, rasanya sudah tak terhitung, apalagi jika ditambah dengan hoax-hoax yang disebarkannya. Sangat-sangat banyak dan merusak.

Bagi saya, manusia macam Fadli Zon ini mungkin diciptakan sebagai alat penguji kesabaran. Tuhan ingin menguji kesabaran kita. Tapi melihat ulama-ulama kami terus dihina tanpa rasa bersalah, nampaknya memang harus ada pelajaran bagi Fadli Zon dan Gerindra. Harus.

Jangan biarkan Gerindra terus memperoleh suara. Jangan biarkan orang macam Fadli Zon kembali memimpin DPR dan bikin ribut. Kita harus belajar dari 2014 lalu. Kemenangan Jokowi harus dibarengi dengan kemenangan partai-partai pengusungnya. Karena jika tidak, maka orang macam Fadli Zon tetap akan punya pengaruh di DPR dan kembali mengulang-ulang kesalahan yang sama.

Demi menyelamatkan Indonesia dari cengkraman cendana dan orde baru, kita menangkan Jokowi Amin. Demi martabat ulama dan NU, kita harus pastikan bahwa tak ada satupun dari kita yang disumbangkan pada Gerindra, siapapun calegnya. Kalau bisa, caleg-caleg NU di Gerindra mengundurkan diri saja sebagai bentuk jihad membela Kiai Maimun dan Yahya Staquf. Begitulah kura-kura.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed