oleh

Viral! Akun Ini Beberkan Strategi Politik Jokowi Dibalik Pembebasan Abu Bakar Baasyir

-Viral-82 views

Indosatu.Net – Kabar mengagetkan itu datang dari Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra. Sebelum salat Jumat di Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Bogor, kuasa hukum Joko Widodo maupun Jokowi – Ma’ruf Amin itu mengungkapkan maka Presiden Jokowi sudah menyetujui pembebasan pimpinan Jamaah Anshorut Tauhid Abu Bakar Ba’asyir.

“Hari ini saya ingin menyampaikan maksud dari Presiden Jokowi yang ingin membebaskan Abu Bakar Ba’asyir” kata Yusril saat tiba di Lapas Gunung Sindur, Jumat 18 Januaro 2019.

Adapun alasan Jokowi menurut Yusril adalah soal kemanusiaan. Menurut Yusril, Jokowi yang ia temui sebleum debat capres, mengatakan iba dengan kondisi kesehatan Abu Bakar Ba’asyir yang telah menginjak usia 81 tahun. Yusril mengaku telah berbicara dengan Abu Bakar soal ini.

Mendengar kabar tersebut, lanjut Yusril, Abu Bakar Ba’asyir pun menyambut positif. Bahkan, Ba’asyir bersedia tidak melakukan hal lain selain istirahat.

“Ba’asyir sangat senang menerima tawaran itu bahkan ia bersedia tidak menerima tamu siapa siapa & tidak bakal berceramah dimana mana, yang penting bisa dekat dengan keluarga,” kata Yusril.

Mantan Menteri Hukum & HAM itu mengatakan Ba’asyir bisa bebas dalam waktu dekat. Ia mengatakan cuma tinggal masalah administrasi saja.

Tapi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum & HAM menyatakan belum menerima surat keputusan apapun dari Presiden Jokowi terkait pembebasan Ba’asyir. “Hingga saat ini kami belum terima surat apapun,” kata Kepala Bagian Humas Dirjen PAS Ade Kusmanto di Jakarta, Jumat, 18 Januari 2019.

Menurut Ade, Ba’asyir merupakan terpidana kasus terorisme dengan hukuman 15 tahun penjara sehingga jatuh tempo masa bebas murninya masih lama yaitu pada 24 Desember 2023.

Apabila diusulkan pembebasan bersyarat, kata Ade, menurut perhitungan dua per tiga masa pidananya, maka Ba’asyir bisa bebas pada 13 Desember 2018 lalu. “Tapi saat ini belum diusulkan pembebasan bersyarat sebab ustad Ba’asyir tidak mau menandatangani surat pernyataan setia kepada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Ade seperti dikutip Antara pada Jumat, 18 Januari 2019.

Padahal surat pernyataan setia pada NKRI itu merupakan salah satu syarat & jaminan kalau Ba’asyir ingin mendapat bebas bersyarat.

Beberapa kemungkinan pembebasan Baasyir, kata Ade, pertama melalui bebas murni yaitu telah habis menjalani pidananya. Kedua, bebas bersyarat yaitu melalui program pembinaan integrasi sosial narapidana kepada masyarakat setelah menjalani dua per tiga masa pidananya. “Ketiga melalui grasi Presiden dengan alasan kemanusiaan,” kata Ade Kusmanto.

Pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menilai, kalau Presiden Jokowi tidak memiliki landasan hukum dalam rencana pembebasan Abu Bakar Ba’asyir, maka Jokowi bisa mengacaukan sistem hukum di Indonesia.

“Artinya, kendati dengan pertimbangan kemanusiaan, tetap harus ada landasannya,” kata Fickar saat dihubungi, Ahad, 20 Januari 2019. Sebab sikap yang diambil Jokowi tak menutup kemungkinan menimbulkan kesan adanya tujuan politik.

Pembebasan Ba’asyir yang berdekatan dengan Pemilihan Presiden 2019 ini memang menimbulkan banyak pertanyaan. “Ada pertanyaan bergelayut dibenak publik, kenapa baru sekarang dibebaskan. sebab hampir setahun berjalan dari wacana muncul bulan Februari 2018 & baru dieksekusi sekarang pertengahan Januari 2019,” kata Direktur Community of Ideological Islamic Analyst, Harits Abu Ulya.

Berikut ini mari kita simak ulasan dibalik pembebasan ABB

.
.

.
.

.
.

Terlihat sekali ada perubahan kebijakan dari aparat keamanan dari yang sebelumnya tegas tegas menghadang mahasiswa kini berubah lebih persuasif menjadi ‘mengawal mahasiswa’.
Maka situasi pun makin menjadi2 & tak terkendali. cuma menunggu pemicu saja untuk terciptanya chaos!

Benar saja, akhirnya terjadilah penembakan terhadap masiswa Trisakti pada tgl 12 Mei 1998!

Apakah peristiwa penembakan tsb suatu peristiwa spontan maupun merupakan bagian dari skenario besar utk ‘mematangkan’ kondisi?

Hingga saat ini tidak ada jawaban atas pertanyaan tersebut. Tapi yg pasti dalam peristiwa tersebut 6 mahasiswa tewas ditempat akibat tertembak bagian2 fital tubuhnya spt leher, kepala & dada.

Dan anehnya, mereka yg ditembaki itu justru berada di dalam kampus. Mereka ditembak oleh aparat yg berada di jalan layang Grogol.
Mengapa mereka ditembaki? Bukankah mereka berada di dalam kampus? Apa tujuan penembakan itu?

Peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti itu pada kenyataannya merupakan trigger kerusuhan besar yg mengharu-biru bangsa Indonesia & menjadi sejarah hitam bangsa ini untuk selamanya.

..

.
.

Tak berapa lama massa pun berkumpul di jalan Slamet Riyadi & mulai melempari bangunan bank & toko.
Mahasiswa yg tadinya hendak meneruskan demo memilih mundur sebab massa yg anarkhis tidak terkendali.


Banyak saksi mata melihat tentara berada diantara kerumunan massa tersebut, namun tidak melarang ataupun menyuruh alias membiarkan ulah massa yg melakukan perusakan bangunan2 tersebut.


Warga yg awalnya cuma menonton ulah massa tersebut akhirnya tergerak ikut2an merusak toko, bank & bangunan lainnya. kemudian diikuti dengan penjarahan & pembakaran toko2, bank & pusat aktifitas ekonomi lainnya. Solo lumpuh!


Kerusuhan menjalar ke seluruh Solo & berubah menjadi kerusuhan rasial. Warga keturunan Tionghoa di Solo di buru! Toko2nya didobrak, pemiliknya dihajar ramai2 & isi tokonya dijarah kemudian tokonya dibakar!

.
.

.
.

.
.

.
.

.
.

.
.

.
.

.
.

.

.
.

Maka untuk saudara2 dari kalangan minoritas yg saat ini mungkin sedang kecewa bahkan marah pada keputusan Jokowi tersebut, harap berpikir sampai kesini.
Membebaskan Abu Bakar Baasyir sama sekali tidak menguntungkan Jokowi secara elektoral, bahkan merugikan.


Mereka tidak bakal berbalik dukung Jokowi sebab pembebasan Abu Bakar Baasyir, bahkan berterima kasih pun tidak! Sebaliknya Jokowi justru berpotensi ditinggalkan pendukungnya sendiri.


Tapi kalau keputusan itu bisa membuat golongan minoritas terhindar dari terulangnya mimpi buruk Mei 1998 maka itulah pengorbanan yg harus dilakukan Jokowi.
Ingat, kondisi Solo sekarang sedang panas2nya. & Ngruki meskipun berada di Sukoharjo tapi masih masuk wilayah Solo Raya.


Sampai disini semoga paham maka keputusan Jokowi yg seolah menyakiti minoritas itu sesungguhnya justru utk melindungi minoritas.
Jokowi sedang berusaha keras menghindari trigger yg dapat membuat suasana tak terkendali.
Jika itu sampai terjadi, kira2 siapa yg paling dirugikan?

.

.
.

.

.


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed