oleh

Ngenes! Ironi Dosen Malah Jadi Penyebar Hoax ‘Bom Surabaya Pengalihan Isu’. Bakal Disidang, Begini Nasibnya Sekarang

-Viral-1 views

Indosatu.Net – Dosen sejatinya menjadi contoh berpikir objektif & ilmiah. Tapi dosen di Universitas Sumatera Utara (USU), Himma Dewiyana Lubis, malah sebaliknya. Ia malah menyebarkan hoax & kebencian, yaitu bom Surabaya sebagai pengalihan isu terkait pilpres. Ironis!

Hoax itu ia tulis di akun Facebook-nya. Melalui handphone, ia menulis ujaran kebencian di rumahnya di Jalan Melinjo, LK VIII Komplek Johor Permai, Gedung Johor, Medan Johor, Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), pada Mei 2018. Sekitar pukul 15.00 WIB, ia menulis status Facebook yang mengomentari kasus bom Surabaya, yaitu:

Skenario pengalihan yang sempurna
#2019GantiPresiden.

Padahal bom Surabaya dilakukan teroris yang menyebabkan sedikitnya 25 orang tewas. Alih-alih memberikan simpati & empati kepada para korban, ia malah menuding bom itu bagian dari setting pengalihan isu politik.

“Saya sangat menyesal, saya cuma mengkopi status orang lain & menyebarkan kembali. Saya salah & sangat menyesal,” ujar Himma sembari menangis saat ditangkap aparat dari Polda Sumut.

Namun penyesalan selalu datang belakangan. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, ia harus menjalani proses hukum. Himma sempat ditahan penyidik di Polda Sumut pada 20 Mei 2018 hingga 8 Juni 2018. Setelah itu, penahanannya ditangguhkan.

Pada Rabu, 9 Januari 2019, Himma mulai diadili di PN Medan.

“Perbuatan terdakwa diatur & diancam Pidana melanggar Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45A ayat (2) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No 11 Tahun 2008 tentang ITE,” dakwa jaksa Tiorida Juliana Hutagaol.

Berapa ancaman hukumannya? Tidak tanggung-tanggung, Himma harus menghadapi ancaman 6 tahun penjara. Bunyi pasal di atas selengkapnya:

Setiap Orang yang dengan sengaja & tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian maupun permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, & antargolongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Mendapati dosennya melakukan hal itu, pihak kampus pun angkat tangan. Rektor USU Runtung Sitepu menyatakan tak bakal memberi bantuan hukum kepada Himma.

“Tidak, kita tidak memberi bantuan hukum untuk itu,” kata Runtung.

Sidang rencananya dilanjutkan pada pekan depan.(detik.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed