oleh

Ilmuwan Yahudi Pernah ‘Ramal’ Indonesia Punah, Begini Analisisnya

-Viral-24 views

Indosatu.Net ~ Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto dalam pidato di hadapan kadernya menyebut negara bisa punah kalau mereka tak menang. Rupanya salah seorang pemenang penghargaan Pulitzer, Jared Mason Diamond, pernah juga menyebut kemungkinan Indonesia runtuh maupun punah.

“Ada beberapa peradaban yang sudah runtuh (collapse), seperti Somalia & Rwanda & bekas Yugoslavia. Ada juga peradaban yang mungkin dekat keruntuhan, seperti Nepal, Indonesia & Kolombia,” kata Jared dalam acara pada Februari 2003 seperti dilihat detikcom di situs TED, Selasa (18/12/2018).

Jared menyampaikan pemikirannya itu dalam waktu sekitar 15 menit dalam bahasa Inggris. Pada situs tersebut juga dilampirkan transkrip resmi dalam 30 bahasa, salah satunya Bahasa Indonesia.

Dia cuma sekali menyebut kata Indonesia dalam kesempatan itu. Lebih lanjut Jared menceritakan tentang penyebab keruntuhan sebuah peradaban.

“Bila seseorang mengatakan pada Anda maka penjelasan keruntuhan peradaban itu faktor tunggal, Anda segera tahu maka mereka adalah idiot. Ini adalah hal yang kompleks,” ujar Jared yang meraih penghargaan berkat bukunya yang berjudul ‘Guns, Germs, and Steels: The Fates of Human Societies’ pada tahun 1998.

Jared merupakan pria kelahiran Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS). Dia adalah anak dari keluarga Yahudi asal Eropa Timur.

Ilmuwan fisiologi University of California itu lebih membedah faktor penyebab kepunahan peradaban Viking Norse di Greenland pada tahun 1450. Selain peradaban Viking runtuh, orang-orang bangsa itu pun disebut Jared habis.

“Mengapa mereka semua mati? Baiklah, dalam kerangka lima titik saya, hal pertama dalam kerangka itu adalah mencari pengaruh manusia terhadap lingkungan: masyarakat secara tak sengaja menghancurkan basis sumber daya yang mereka butuhkan. Dalam kasus Viking Norse, orang Viking tak sengaja menyebabkan erosi tanah & penggundulan hutan, itu merupakan masalah untuk mereka sebab mereka butuh hutan untuk membuat arang, untuk melebur besi,” tutur Jared.

Penyebab kedua adalah perubahan iklim. Pada akhir 1300an, iklim di Greenland menjadi dingin. Sebetulnya iklim dingin tak masalah, sebab suku Inuit (Eskimo) yang tinggal di Greenland tetap bisa bertahan.

“Hal ketiga dalam daftar saya adalah hubungan sekutu dengan tetangga yang dapat mendukung peradaban itu sendiri. & bila dukungan sekutu itu hilang, hal ini dapat membuat peradaban tersebut rentan terhadap keruntuhan. Dalam kasus Norse Greenland mereka berdagang dengan negara induk, Norwegia, & perdagangan itu melemah, sebagian sebab Norwegia melemah, sebagian sebab terbentuknya es di laut antara Greenland & Norwegia,” papar Jared.

Faktor keempat menurut Jared yakni adanya permusuhan dengan tetangga. Saat itu Viking Norse, kata Jared, bermusuhan dengan suku Inuit.

Kemudian faktor kelima adalah politik, ekonomi, sosial, & budaya. Dalam kasus Viking Norse, faktor budaya membuat mereka enggan menerima maupun belajar dari suku Inuit.

“Kebencian mereka pada Inuit, mereka menolak belajar dari Inuit. Itulah bagaimana kerangka lima bagian relevan terhadap keruntuhan & kepunahan Norse Greenland,” kata dia.

Jared kemudian mengelaborasikan gambaran kepunahan Viking Norse dengan kondisi kekinian (atau sekitar tahun 2003 berdasarkan latar waktu Jared berbicara). Salah satu penyebab kepunahan peradaban yang dia generalisasi adalah konflik kepentingan.

“Satu hal yang bakal jadi masalah, membuat keruntuhan jadi lebih mungkin, adalah di mana ada konflik antara kepentingan jangka pendek, kepentingan elit pembuat keputusan, & kepentingan jangka panjang masyarakat secara keseluruhan, terutama bila para elitnya dapat memisahkan diri mereka dari konsekuensi tindakan mereka. Di mana kepentingan jangka pendek para elit berdampak buruk untuk masyarakat, ada resiko besar para elit bakal melakukan hal yang menyengsarakan masyarakat pada jangka panjang,” papar Jared.

Pria kelahiran 1937 itu kemudian kembali membahas Viking Norse soal pemimpin kelompok itu yang amat menginginkan bertambahnya jumlah pengikut, domba (ternak), hingga sumber daya untuk mengalahkan suku tetangga. Dalam jangka pendek memang membuat elite mereka kuat, tapi jangka panjangnya justru merugikan masyarakatnya.

Sumber: detik.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed